Langsung ke konten utama
pertemuan Awal yang Membekas hudaadzman(maya manilantikah)
Aku duduk di ujung jembatan yang melintasi sungai besar di tengah kota. Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat merah di langit yang kian gelap. Hari itu terasa berat, pikiranku penuh dengan bayangan masa lalu. Baru saja aku mengakhiri hubungan panjang dengan perempuan yang pernah sangat kucintai. Namanya Lia. Kami bersama selama empat tahun, namun seperti halnya ombak di lautan, hubungan kami penuh gelombang. Pertengkaran demi pertengkaran membuatku lelah, hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpisah.ambil menatap aliran air di bawah jembatan, aku berusaha meredakan perasaan galau. Malam itu dingin, dan angin berhembus lembut menerpa wajahku. Tanpa sengaja, aku mengalihkan pandanganku ke arah seorang wanita yang sedang berjalan ke arahku. Dia terlihat anggun dengan balutan gaun hitam yang elegan. Rambutnya yang panjang terurai, wajahnya putih berseri dengan mata yang tajam. Seperti sebuah magnet, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.Aku tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang membuatku ingin mendekatinya. Mungkin karena senyumnya, atau mungkin karena aura misterius yang memancar dari tubuhnya. Saat dia semakin dekat, aku memberanikan diri untuk menyapanya."Hai, kamu sendirian?" tanyaku sambil mencoba bersikap tenang, meski sebenarnya dadaku berdebar kencang.Dia tersenyum lembut. "Iya, aku sering datang ke sini untuk mencari ketenangan."Suaranya lembut, hampir seperti bisikan angin yang membawa ketenangan. Kami pun mulai mengobrol. Namanya adalah Maya, dan dalam hitungan menit, kami seolah sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Percakapan kami mengalir begitu saja, tanpa beban. Aku merasakan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tanpa terasa, malam semakin larut, dan aku tahu aku harus pulang. Namun, aku tak ingin berpisah darinya.Sebelum kami berpisah, dia memberikan nomor ponselnya, dan aku merasa bahwa malam itu adalah awal dari sesuatu yang besar. Sebuah perasaan baru mulai tumbuh dalam diriku, dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku merasa hidup kembali.Jalinan Cinta yang MendalamHari-hari berikutnya terasa seperti mimpi. Aku dan Maya mulai sering bertemu. Setiap kali bersamanya, aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan. Maya adalah wanita yang dewasa, penuh dengan wawasan, dan memiliki pandangan hidup yang berbeda. Ada kehangatan dalam cara dia berbicara dan caranya memandang hidup. Kami berdua sangat cocok, jauh berbeda dari hubunganku sebelumnya.Selama beberapa bulan, kami sering melalukan hubungan badan, dan terkadang aku membuat vidio bersamanya walaupun hanya vidio rekaman dari telpon seluler, tapi tetap saja di kala kami sedang tidak bersama kami bisa menonton ulang vidio hubungan badan yang sangat hangat ganas di malam siang pagi itu, di dapur, kamarmandi, di kamar tidur, sofa tengah, sofa ruang tamu dan di dalam mobil.
Maya sering bercerita tentang kehidupannya yang penuh warna. Dia mengatakan bahwa dia pernah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki, tapi sekarang anaknya tinggal sendiri di luar kota. Aku tidak terlalu banyak bertanya tentang hal itu, karena yang penting bagi kami adalah momen-momen yang kami lewati bersama. Namun, terkadang, ada perasaan aneh yang muncul dalam diriku. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan, tapi aku tidak ingin merusak hubungan kami yang indah.
Waktu berlalu, dan aku merasa bahwa Maya adalah orang yang tepat untukku. Meski ada jarak usia di antara kami, hal itu tidak pernah menjadi masalah. Bahkan, aku merasa dia jauh lebih mengerti diriku daripada siapa pun yang pernah kukenal.
Namun, seiring dengan kebahagiaan itu, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali kami berbicara tentang masa lalu, Maya selalu menghindari topik tentang keluarganya. Dia jarang membicarakan mantan suaminya, dan meskipun dia menyebutkan anak laki-lakinya, tidak ada detail lebih lanjut yang dia ceritakan.
Kebetulan yang Mencurigakan
Suatu hari, setelah hampir setahun kami bersama, Maya mengajakku makan malam di sebuah restoran mewah di pusat kota. Ini bukan pertama kalinya kami makan di sana, tapi ada sesuatu yang berbeda malam itu. Maya tampak lebih gelisah dari biasanya, dan aku merasa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
Sambil menikmati hidangan kami, Maya tiba-tiba berkata, "Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."
Aku terdiam sejenak. Selama ini, Maya belum pernah berbicara tentang memperkenalkanku kepada keluarganya. Aku sedikit terkejut, tapi juga merasa senang. Mungkin ini adalah tanda bahwa hubungan kami semakin serius.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
Dia tersenyum tipis. "Anakku. Dia akan pulang akhir pekan ini, dan aku ingin kalian bertemu."
Aku mengangguk, meskipun di dalam hati ada sedikit kecemasan. Namun, aku tetap merasa bahwa ini adalah langkah yang baik untuk masa depan kami.
Hari yang ditunggu pun tiba. Aku menunggu di rumah Maya dengan sedikit gugup. Aku belum pernah bertemu dengan anaknya, dan aku tidak tahu apa yang harus diharapkan. Pikiranku melayang, membayangkan seperti apa anaknya. Apakah dia akan menyukaiku? Ataukah dia akan merasa aneh melihat ibunya bersama pria yang lebih muda?
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka, dan seorang pria masuk. Wajahnya terlihat familiar, tapi aku tidak bisa langsung mengenalinya. Dia berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menatapku dengan mata terbelalak.
"Kamu?!" teriaknya dengan nada kaget.
Aku membeku. Pria itu adalah Riko, mantan pacar Lia. Orang yang selama ini kucurigai menjadi alasan mengapa hubungan kami berakhir. Aku tidak bisa mempercayai mataku. Riko adalah anak Maya? Bagaimana mungkin?
Bab 4: Konspirasi Terungkap
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Riko memandangku dengan tatapan penuh kebencian, sementara Maya berdiri di antara kami, bingung melihat reaksi kami.
"Kalian saling kenal?" tanya Maya dengan suara yang penuh kebingungan.
Aku tidak bisa menjawab, mulutku terasa kering, dan otakku berputar-putar mencoba memahami situasi ini. Bagaimana mungkin pacarku adalah ibu dari mantan pacar Lia? Ini seperti mimpi buruk yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi.
Riko segera berjalan mendekat ke arahku, dengan tatapan marah yang sulit dijelaskan. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan suara yang penuh kemarahan. "Kamu tidak pantas ada di sini!"
Aku mencoba menjelaskan, tapi suaraku hilang. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kenyataan ini terlalu mengejutkan untuk diproses. Bagaimana bisa dunia ini begitu kecil? Hubungan antara aku dan Maya yang tampak sempurna tiba-tiba hancur dengan satu momen ini.
Namun, sebelum aku bisa mengatakan apa-apa, Maya melangkah maju dan menatap kami berdua dengan tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kalian berdua terlihat sangat tegang."
Riko menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Dia adalah mantan pacar pacar baruku, Lia," ujarnya dengan nada sinis.
Maya terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Namun, dalam sekejap, matanya menyala, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja dia sadari. "Tunggu... kamu bilang nama pacarmu adalah Lia?"
Komentar
Posting Komentar